
PALUTUNGAN – CIGOWONG – KUTA – PANGGUYANGAN BADAK – ARBAN – TANJAKAN ASOY – PASANGGRAHAN – SANGYANG ROPOH – GUA WALET – PUNCAK
Ini adalah pendakian kedua saya
yang sebelumnya ke gunung gede, ternyata pendakian kali ini dua kali lipatnya
dari gunung gede. Maka dari itu saya dan
rekan-rekan Mas Jimmy, Pak Andres dan Rhanda memutuskan bahwa 1 orang membawa 3
botol air mineral besar ukuran 1,5 liter, dan ada tambahan botol botol kecil
untuk kita minum selama diperjalanan jadi tidak perlu repot-repot mengeluarkan
botol 1,5 liter itu dari ransel. Karena memang selama perjalanan kita hanya
menemukan sumber air di pos pertama yaitu pos Cigowong.
Pos 0 Palutungan (8:12)
Hutan Pinus (09:07)

Hutan Pinus (12:31)
Hutan Pinus (12:31)
Diperjalanan
hutan pinus menemani perjalanan kita, sejuk sekali dengan pemandangan yang
keren serta suara alam yang membuat kami takjub. Disini banyak tanda Jalur
Evakuasi, dibenak saya memikirkan hal-hal yang tidak diinginkan, tetapi saya
berusaha melawannya dan mencoba rileks.
Pos
1 Cigowong (13:12)
Pos 1 Cigowong
(14:59)
Pos ini cukup besar untuk membuka
tenda tapi sayangnya jarang yang membuka tenda di sini karena ini baru pos 1,
disini ada toilet 4 dan itu pun tempatnya seram :D lebih baik mencari tempat
lain kalo ingin buang air. Ternyata dibalik bilik itu ada aliran sungai
mengalir yang airnya jernih banget, sebenarnya pengen lama-lama main air disitu
dan karena kita harus mengejar waktu untuk sampai puncak jadi kami hanya menggunakan
air untuk berwudhu dan mengisi botol air mineral yang sudah kosong. Air di Pos
Cigowong ini seger bro, dijamin engga sakit perut kalo minum nih air. Disini
tidak terlihat jalur pendakian untungnya ada tim lain yang sudah pernah mendaki
sebelumnya, kami menanyakan jalur pendakian kepada mereka. Benar kata Mas Jimmy
selaku leader kami, harus menghindari malam jika mendaki gunung ini. Kami
menghabiskan cukup banyak waktu disini yaitu 2 jam, waktu yang lumayan banyak
tetapi itu wajar karena menuju pos 1 ini perjalanan lumayan jauh. Kami membuat
mie dan memasak nasi dengan tambahan kentang goreng dari Pak Andres untuk
mengisi perut yang kosong ini.
Sudah terlihat muka letih di
wajah kami, letih menjamah dan beban berat yang dipikul disinilah nyali kami
diuji, belum lagi cerita-cerita mistis gunung ciremai tetapi sayangnya kami
tidak bisa melambaikan tangan seperti di acara hantu-hantu itu :D . Dengan
langkah kaki yang pasti kami meneruskan perjalanan kami. Hutan hujan tropis
membuat bnyak pacet disepanjang perjalanan. Karena Pak Andres hanya menggunakan
sepatu sandal dan tidak menggunakan kaos kaki, pacet dengan santainya menempel
dan sadar-sadar ada 4 buat titik darah di kaki Pak Andres. Saran saya adalah
menggunakan gaiter agar terhindar dari pacet ular ataupun gesekan batu.
Pos 4 Arban (17:28)
Matahari semakin terbenam di ufuk
barat dan kami pun mengeluarkan headlamp untuk penerangan jalur yang kami
lalui. Langkah kaki ini terasa semakin cepat berbalapan dengan napas kami
karena malam akan datang :D sebisa mungkin saya menjaga jarak dengan tim saya
paling tidak 1 langkah di depan atau belakang tim. Seperti dari awal kita
berencana untuk nge-camp di gua wallet tetapi pada kenyataannya langkah kaki
ini terhenti karena malam sudah menyapa berjalan sebentar dan sampailah kami di
Pos 5 yaitu tanjakan asoy, sekedar informasi saja nama tanjakan tidak sesuai
dengan apa yang ada. Tanjakan yang terjal dan terkadang pijakan hanya pada akar
pohon yang menyebabkan saya terpeleset. Akhirnya sampailah di Pos Tanjakan Asoy
ternyata tim pertama nge-camp di sini dan kami putuskan untuk nge-camp bareng
dengan tim 1 dan ada 1 tim lagi yang datang sekitar jam setengah 8 dan tim
tersebut ikut bergabung dengan kami. Selama perjalan kami hanya bertemu dengan
2 tim ini saja tidak ada pendaki lain yang berpapasan dengan kami.
Pagi yang cerah memaksa saya untuk membuat milo yang hangat, ini adalah tempat berteduh yang kecil dan nyaman bagi saya. Tempat yang sederhana tapi banyak pelajaran yang dapat diambil, suara itu lagi suara alam yang membuat saya nyaman dan tentram berada disana.
Kami menggunakan jas hujan karena
setelah tanjakan asoy kami dihujani terus menerus hujan berenti hanya 5 – 10
menit dan hujan mengguyur kami kembali. Air hujan yang mengalir di jalur
pendakian kami membuat rasa takut hipotermia menghampiri. Tetapi kami sudah
memastikan perut kami terisi dan langkah kaki ini jarang terhenti. Ternyata
kami tidak bisa menghidari hujan walaupun sudah masuk bulan april.
Indahnya Ciremai
(12:37)
Sampailah kami di pos terakhir
jalur palutungan yaitu gua walet, di gua
walet terdapat air dari tetesan dari langit-langit gua dan di tampung di
gentong. Air digentong akan terisi pada saat musim hujan saja dan stoknya juga
hanya sedikit, karean dari itu jangan pernah mengharapkan air di gua walet. Goa
yang kedalamannya kurang lebih 30 meter dan ketinggian 15 meter ini nyaman
untuk nge-camp.
Langkah demi langkah dan kaki ini
akhirnya berhenti sejenak saat kami tiba di puncak, terbayar lunas saat kami
menginjakan kaki di bibir kawah Gunung Ciremai. Kami tidak mengejar sunset dan
sun rise, karena kondisi fisik dan cuaca yang tidak dapat kami prediksi. Nah
langsung liat aja deh gimana mantapnya pemandangan dari puncak ciremai.
Kawah Ciremai (16:04)
Selesai menikmati pemandangan di
puncak ciremai kami melanjutkan perjalan kami turun melalui jalur linggarjati.
Di jalur linggarjati ini trek memang lebih afgan dari palutungan, jalur tanah,
batu akar adalah yang kami lalui sampai pos linggasana.
Puncak Ciremai
(16:16)
Langkah ke
CIREMAI
Tinggalkan
penat kota yang makin mencekam
Mencari kedamaian di alam terbuka
Mencari kedamaian di alam terbuka
Satu tujuan
kami bertafakur alam
Buat kami
semakin mengagumi kebesaran-Nya
Sampai
diperbatasan hutan doa selalu dipanjatkan
Kekhawatir diangan-angan
Semoga tidak
ada apa-apa diperjalan
Tibalah
dibibir kawah CIREMAI
Lelah
terbayarlah sudah
Tanpa ada
batas jarak pandang
Terlepas
bebas mata memandang lukisan alam

terima kasih Mas Maherga ,,, nice share ^^
ReplyDeletebanyak sekali rasa yang saya dapatkan saat membaca ini seperti : rasa kantuklah (hooaaam) , merindinglah (rrrrrr),,benar-benar amazing. saya seperti bisa merasakan sensasi yang ada rasakan ketika mendaki gunung tersebut. tapi banyak juga kalimat yang kurang saya pahami maksudnya karena padanan kata nya kurang tepat (sepertinya otak saya yang belum sampe... )
sekali lagi nice share, ditunggu pengalaman naik gunung berikutnya ,,misalnya gunung salak, gunung sinabung atau mungkin gunung fuji...
terima kasih
wasssalam
Terima kasih juga 000EKAPU udah mampir ke blog saya,
DeleteMohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam penulisan