Gunung Putri – Alun-alun Surya Kencana – Puncak
Gede – Kandang Badak – Cibodas
26 September 2014. Sebuah perjalanan
yang mengesankan dengan tim saya yang berjumlah 4 orang Mas Jimmy, Mas Haekal,
Mas Ardath dan saya sendiri. Perjalanan dimulai dari Mujair Pasar Minggu pukul
20.28 dengan menggukan taksi ke terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur , kami
bergegas mencari bus umum yang melintasi kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Bus
yang melalui jalur Puncak dan kami turun di pasar cibodas. Saat itu
per-orang 27 ribu.
Bus Doa Ibu (09.01)
Setelah sampai di Pasar Cibodas
kami menyarter angkot dengan harga 120 ribu, tetapi kami hanya mengeluarkan 40
ribu karena patungan dengan pendaki lainnya yang akan mendaki gunung gede via
jalur Gunung Putri. Pukul 12.00 kami sampai di kaki Gunung Putri, Sebelum
melakukan pendakian kami makan nasi dengan tempe dan capcai ..Mantap!
27 September 2014. Memulai
pendakian pada pukul 01.42 ke pos Administrasi
Gunung Gede Pangrango, baru sampai pos ini firasat saya sudah tidak enak karena
napas saya yang cepat dan kelelahan.
Pos administrasi
Gunung Gede Pangrango (01.42)
Ternyata firasat saya benar, belum
apa-apa trek yang kami lalui langsung menanjak. Secara mental saya langsung
down, tetapi apadaya kaki ini terus melangkah sejauh yang kami mampu, hingga
ada yang minta break. Dan di sinilah yang menjadi tantangan jalur putri yang
terkenal terjal kami lewati dengan pasti. Tak ada jalur landai atau bonus yang
ada hanya jalanan yang menanjak. Sampailah di Pos 3 kami mengabadikan gambar
dengan meminta bantuan pendaki lain.
Pos 4 (3.04)
Kami melanjutkan perjalanan
lagi, dengan heningnya malam ditambah dengan suara monyet yang membuat
perjalanan semakin mistis. Jauh rasanya kaki ini melangkah dan sampai pukul 5
pagi kami mendirikan shalat subuh. Saat menggambil air wudhu dengan menggunakan
air secukupnya dari botol aqua yang kami bawa, langsung kerasa dingin yang
begitu dahsyat di telapak tangan saya ini kemudian terasa seperti ditusuk-tusuk
jarum dan tak terasa tangan ini membuat saya panik takut terkena hipotermia.
Untuk menjaga-jaga agar aman saya pastikan tidak menggambil wudhu lagi tapi
dengan tayamum.
Shalat Subuh (4:50)
Akhirnya matahari pun menampakan dengan
malu di antara pepohonan dan lelahnya kaki ini semakin menjadi seperti ingin
istirahat dan tidur dengan pulas. Trek yang masih menanjak kadang membuat saya
tidak berani melihat ke depan hanya melihat langakah kaki saya dengan penuh
harapan dapat trek landai dan segera sampai di puncak.
Trek Menanjak (5.45)
Menanjak dan terus menanjak, kami
pun tiba di Alun-alun Surya Kencana.
Surya Kencana adalah sebuah padang rumput yang luas, dengan Edelweis yg bebunga
dimana-mana. Ternyata di sini kami langsung disambut dengan akang penjual nasi
uduk yang sebelumnya menawari kami saat perjalanan. Kami membeli nasi uduk
dengan harga 10 ribu, itu terasa terlalu mahal jika dibanding dengan nasi udak dekat rumah haha..Tetapi lumayan untuk mengisi perut kosong kami yang kelelahan
berjalan.
Surya Kencana (09.01)
Surya Kencana (09.17)
Kami buka tenda di Alun-alun
Surya Kencana kami memilih di sekitar pepohon agar tidak langsung kena sinar
matahari dan terhindar dari badai. Saat itu di sekitar tenda kami suasana sejuk
dan damai. Mas Jimy dan Mas Haekal memilih untuk beristirahat di tenda. Saya
dan Mas Ardath memilih untuk berburu foto di Padang luas dengan kabut tebal
yang tertiup angin dengan cepat. Sekali lagi ini membuat saya terkagum kembali
hal ini tidak pernah didapati di suasana kota Jakarta yang panas dan macet.
Saat itu kami beruntung masih ada mata air yang keluar di bawah gua. Ini sangat
membantu kami untuk masak dan minum.
Camp (14:10)
Mata Air Surya
Kencana (14. 27)
Petapa (4.27)
Malam panjang dengan dingin yang
tak biasa menyelimuti. Yang kami inginkan hanyalah beristirahat agar stamina
kembali lagi saat jam 3 pagi untuk melakukan submit attack. Dengan membuat spageti, coklat dan roti cukup untuk
mengisi perut kami . Kami pun bergegas solat menjama’ shalat maghrib dan Isya,
setelah itu kami tidur. Tidak seperti pikiran saya tidur akan lelap sampai
pulas, tapi ternyata tidak untuk memejamkan mata saja susah. Selain dingin dan
berhimpitan di satu tenda kasur tanah pun menjadi kasur kami saat itu.
28 September 2014. Pagi pukul
03.00 kami bangun karena kami merencakan mengejar sunrise di puncak. Hidung ini
terasa mampat dan saya bergegas membuat kopi jahe dengan nesting dan parapin,
saya membuat 4 sekaligus dan lumayan pilek terasa mereda, sambil menikmati kopi
jahe kami bercengkrama di dalam tenda. Mas Jimy lagi asik tertidur pulas tidak
ingin melanjutkan perjalanan subuh tapi kami bertiga bersih keras mengajak Mas
Jimy submit attack subuh setelah shalat subuh. Akhirnya tiba juga subuh, teman
kami Haekal Azan di dekat tenda kami, dengan mulut gemetar dia mengumandangan Azan.
Kami pun shalat subuh berjamaah jam 05.00 dan langsung Submit attack, lagi-lagi trek yang kami lalui
terjal dan kini lebih parah meskipun sampai puncak dalam waktu 45 menit - 60 menit.
Detik-Detik Sampai Puncak
(5:42)
Dan akhirnya kami sampai puncak
Gunung Gede! Yuhhuu.. Pemandangan di atas awan yang mengagumkan. Ada sedikit
bau belerang dari kawah, kami pun gembira akhirnya sampai puncak. Semua
kelelahan terbayar lunas saat di Puncak. Segera kami mengabadikan sunrise ini,
tidak sia-sia kami berangkat subuh kami sampai puncak pas saat matahari mulai berani
menampakan wujudnya. Ini memang keren. Sungguh! :D
Puncak Gede (5:50)
Puncak Gede (5:52)
Puncak Gede (6:18)
Puncak Gede (6:50)
Puncak Gede (7:19)
Setelah puas berfoto ria kami
turun ke jalur Cibodas yang kondisi treknya agak landai. Yang paling seru
ditrek ini adalah melewati tanjakan setan! Kenapa diberi nama itu karna
tanjakan ini benar-benar terjal dan tinggi sampai-sampai harus menggunakan tali
untuk melaui tanjakan ini. Dan satu hal lagi yang membuat kami panik yaitu kami
kehilangan salah 1 teman kami yaitu Mas Haekal, Mas Haekal memang sering jalan
lebih dahulu tetapi tidak untuk kali ini kami tidak merasa disusul dan terakhir
kami melihat dia sedang mengambil foto kawah kami panik terlebih ketua tim kami
yaitu Mas Jimy, dia mencari ke tempat terakhir kita berpisah dengan Mas Haekal
dan alhasil tidak ada. Kami menuruni puncak Gunung Gede dengan membawa rasa
khawatir akan kehilangan salah satu tim kami, sampai-sampai Mas Jimy ingin
menelepon keluarga Mas Haekal. Ternyata eh ternyata kami bertemu di Kandang
Badak! Sykurlah! Dan hal ini sering terjadi di tim kami tidak terasa menyusul
dan disusul padahal saat itu trek dalam keadaan lumayan sepi. Saran saya jika
jalan dengan tim berjalanlah berbarengan dengan tim agar tidak terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan.
Tanjakan Setan (8:41)
Setibanya di Kandang Badak,
sebuah camp yang cukup sempit dan ramai kami berempat beristirahat saya membeli
nasi uduk kembali dan kembali juga kami memakan nasi uduk yang belom menjadi
uduk haha..Kami tak berlama-lama di Kandang Badak karena hari sudah siang dan
kami segera bergegas untuk mengejar bis secepat mungkin, karena akan banyak
pendaki yang ingin naik bus saat sore hari dan dikhawatirkan akan susah dapat
bus nantinya. Ternyata benar kami hanya memakan waktu 4 jam dari puncak sampai
pintu masuk cibodas.
Perjalan trek cibodas jauh lebih
mudah dibandingkan dengan trek putri, jalan disana lebar dan sudah disusun
batu. Kami berhenti sejenak di air terjun yang airnya hangat, kamipun tak
menyianyiakan kesempatan ini. Segera kami membuka sepatu dan merendamkan kaki,
walau terasa air ini masih kurang hangat dibanding dengan dinginnya udara.
Kemudian kami melewati jalur yang
cukup rumit, dengan melewati bebatuan yang licin dengan mengalirnya air panas jika terkena cipratanya saja panas ditambah
dengan disamping kiri kami jurang. Ternyata cerita dari teman saya jika kaki tercebur
tidak apa-apa hanya panas saja, tetapi rekomendasi saya jangan sampai
terpeleset. Tetap hati-hati dan memperhatikan setiap langkah kaki.
Kanan Air Panas Kiri Jurang
(11:47)
Kembali kami menuruni gunung
melalui hutan belantara dan teringat film wrong
turn “cannibalistic mountain men grossly disfigured through generations of
in-breeding.”. Sungguh konyol pikiran saya haha. Sempat kami
mengambil foto di telaga warna dan disini konon banyak orang yang ditampakan
sesosok nenek tua yang melambaikan tangan ke pendaki.
Telaga warna (1:59)
Setibanya di bawah kami melakukan
administrasi dan tidak lupa kami membawa sampah kami di kantong plastik yang kami bawa. Sebuah pengalaman yang seru dan mengagumkan, ini puncak
pertamaku. Puncak Gede, pengalaman pendakian yang tak akan pernah ku lupakan.
Dan sekali lagi terima kasih alam telah melihatkan sebagian keindahanmu.
Pintu Masuk Cibodas
(3:01)
Pintu Masuk Cibodas (4:06)
























This artical is very importent for man and woman so you can get more idea from this site.
ReplyDeletexnxx