Pengertian Ejaan
Yang dimaksud
dengan ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran
dan bagaimana hubungan di antara lambang-lambang itu (pemisahan dan
penggabungannya dalam suatu bahasa).
Secara teknis, yang diatur dalam
ejaan ialah penulisan huruf, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca.
PENULISAN HURUF
- Huruf Kapital atau Huruf Besar
Huruf kapital atau huruf
besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
Misalnya:
Dia
mengantuk.
Apa
maksudnya?
Kita
harus bekerja keras.
Selamat
pagi.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan
langsung.
Misalnya:
Adik
bertanya, "Kapan kita pulang?"
Bapak
menasihati, "Berhati-hatilah, Nak!"
"Kemarin
dia terlambat," katanya.
Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan
nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya:
Allah Yang Mahakuasa Yang Maha Pengasih
Quran
Alkitab
Weda Islam Kristen
Tuhan
akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya.
Bimbinglah
hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar
kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya:
Haji
Agus Salim Imam Syafii
Presiden Soekarno Nabi Ibrahim
Sultan
Hasanuddin Mahaputra Yamin
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang
diikuti nama orang, instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
Gubernur
Ali Sadikin Menteri
Hatta Radjasa
Profesor
Supomo Gubernur Sulawesi
Utara
Akan tetapi, perhatikanlah
penulisan berikut:
Siapakah gubernur
yang baru dilantik itu?
Brigadir
Jenderal Sugiarto baru dilantik jadi mayor jenderal.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama orang.
Misalnya:
Amir
Hamzah Wage Rudolf
Supratman
Kris
Dayanti Amien Rais
Dewi
Persik Nicholas Saputra
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan
bahasa.
Misalnya:
bangsa Indonesia
bahasa Turki
suku Sasak
suku Toraja
Namun, perhatikanlah
penulisan berikut:
mengindonesiakan
kata asing keinggris-inggrisan
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun,
bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Misalnya:
tahun Hijriah
tarikh Masehi
bulan Agustus
bulan Ramadhan
hari Jumat
hari Lebaran
hari Natal
Perang Padri
hari Galungan
Proklamasi Kemerdekaan
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata di dalam nama buku, majalah,
surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata partikel seperti di, ke, dari,
yang, dan untuk, yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Dari
Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
Pedoman
Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
Salah
Asuhan
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Misalnya:
Asia
Tenggara Jalan Diponegoro
Blitar
Jazirah Arab
Bukit
Barisan Kali Ciliwung
Cirebon
Selat Karimata
Danau
Tondano Tanjung
Harapan
Dataran
Tinggi Dieng Terusan
Suez
Gunung
Salak Laut Jawa
Namun, perhatikan
penulisan berikut:
berlayar
ke teluk mandi di kali
menyeberangi
selat pergi ke arah barat
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama negara, badan, lembaga
pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi, kecuali konjungsi.
Misalnya:
Departemen Pendidikan
Nasional Keputusan Presiden
RI Nomor 156 Tahun 1972
Badan Kesejahteraan
Ibu dan Anak Majelis
Permusyawaratan Rakyat
Perserikatan Bangsa-Bangsa Undang-Undang Dasar
1945
Tetapi perhatikanlah
penulisan berikut:
menurut undang-undang
dasar kita
kerja sama antara pemerintah
dan rakyat
menjadi sebuah republik
beberapa badan hokum
Huruf kapital dipakai dalam singkatan nama gelar, pangkat,
dan sapaan.
Misalnya:
Dr. Doktor
Sdr. Saudara
dr. Dokter
S.Sos. Sarjana Sosial
M.A. Master of Arts
S.H. Sarjana Hukum
Ny. Nyonya
S.S. Sarjana Sastra
Prof. Profesor
Tn. Tuan
M.M. Magister Manajemen
Catatan:
Singkatan di atas selalu
diikuti oleh tanda titik.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk
hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman
yang dipakai sebagai kata ganti atau sapaan.
Misalnya:
Kapan Bapak
berangkat?
Itu apa, Bu?
Surat Saudara
sudah saya terima.
Mereka
pergi ke rumah Pak Camat.
Para ibu
mengunjungi Ibu Fuad.
Surat Anda
telah kami terima.
Catatan:
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan
kekerabatan yang tidak dipakai sebagai kata ganti atau sapaan.
Misalnya:
Kita harus
menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak
dan adik saya sudah berkeluarga.
Semua camat
di kabupaten itu hadir.
B. Huruf Miring (Kursif)
Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk:
menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Misalnya:
Kantor kami berlangganan
majalah Tempo dan surat kabar Kompas.
Kumpulan cerpen Dilarang
Menyanyi di Kamar Mandi ditulis oleh Seno
Gumira Ajidarma.
Nadya sedang menyampul
buku Pelajaran Bahasa Inggris untuk SMA.
menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau
kelompok kata.
Misalnya:
Bab ini tidak
membicarakan penulisan huruf besar.
Buatlah kalimat dengan berlepas
tangan.
Huruf pertama kata abad
ialah a.
Dia bukan menipu,
tetapi ditipu.
menuliskan kata nama-nama ilmiah atau ungkapan asing, kecuali yang telah
disesuaikan ejaannya.
Misalnya:
Sebaiknya kita menggunakan
kata kudapan untuk kata snack.
Buah manggis nama
ilmiahnya ialah Carcinia mangostana.
Politik devide et
impera pernah merajalela di negeri ini.
Catatan:
Dalam tulisan tangan atau
ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak
miring diberi satu garis di bawahnya.
PENULISAN KATA
Kata Dasar
Kata
yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya:
Kami
percaya bahwa kamu anak yang pandai.
Kantor
pajak penuh sesak.
Buku
itu sangat tebal.
Kata Turunan
Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata
dasarnya. Misalnya:
bergeletar
diberikan
diperlebar
kesatuan
menengok
perubahan
Awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau
mendahuluinya jika bentuk dasarnya berupa gabungan kata. Misalnya:
bertepuk
tangan sebar luaskan
garis
bawahi tanda tangani
Jika bentuk dasar berupa gabungan kata dan sekaligus mendapat awalan dan
akhiran, kata-kata itu ditulis serangkai. Misalnya:
memberitahukan
mempertanggungjawabkan
dilipatgandakan
penghancurleburan
Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi,
gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya:
amoral monoteisme
antarkota
multilateral antinarkoba nonkolaborasi bikarbonat Pancasila caturtunggal
panteisme dasawarsa poligami
demoralisasi prasangka dwiwarna purnawirawan ekawarna reinkarnasi
ekstrakurikuler saptakrida nfrastruktur
semiprofesional inkonvensional
subseksi
internasional swadaya introspeksi telepon kolonialisme transmigrasi
kontrarevolusi tritunggal kosponsor tunanetra mahasiswa ultramodern
Catatan:
Apabila bentuk terikat tersebut diikuti oleh kata yang huruf awalnya huruf
besar, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-)
Misalnya:
non-Indonesia
pan-Afrikanisme
Maha sebagai unsur gabungan kata ditulis serangkai, kecuali jika diikuti
oleh kata yang bukan kata dasar dan kata esa.
Misalnya:
Allah Yang
Mahakuasa.
Marilah
kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
Semoga
Yang Maha Esa memberkahi usaha Anda.
Bentuk Ulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.
Misalnya:
anak-anak lauk-pauk berjalan-jalan
mata-mata biri-biri menulis-nulis
buku-buku mondar-mandir centang-perenang porak-poranda dibesar-besarkan ramah-tamah
gerak-gerik sayur-mayur hati-hati
jari-jari huru-hara terus-menerus
kuda-kuda tukar-menukar kupu-kupu
kura-kura tunggang-langgang undang-undang
Gabungan Kata
1. Gabungan kata yang lazim
disebut kata majemuk, termasuk istilah
khusus, bagian-bagiannya ditulis terpisah.
Misalnya:
duta besar
model linear kambing hitam
orang tua sepak bola persegi panjang
mata
pelajaran rumah sakit umum meja tulis
simpang
empat kereta api cepat ibu kota
2. Gabungan kata, termasuk
istilah khusus, yang mungkin menimbulkan
salah baca, dapat diberi tanda hubung untuk menegaskan
pertalian di antara unsur yang bersangkutan.
Misalnya:
alat pandang-dengar
orang-tua muda
anak-istri
saya bu-bapak
kami
buku sejarah-baru
watt-jam
3. Gabungan kata yang
sudah dianggap sebagai satu kata ditulis serangkai.
Misalnya:
akhirulkalam kepada alhamdulillah
manakala
apabila matahari bagaimana
padahal
barangkali paramasastra bilamana peribahasa
bismillah sekaligus bumiputra sendratari
daripada silaturahmi halalbihalal syahbandar
hulubalang wasalam olahraga sukarela
Kata Ganti -ku, kau- , -mu, dan -nya
Kata ganti ku- dan kau-
ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya,
-ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa yang kumiliki boleh kauambil.
Bukuku, bukumu,
dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang
mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu
kata seperti kepada dan daripada.
Misalnya:
Adiknya pergi ke
luar negeri.
Bermain sajalah di sini.
Di mana ada Kunti, di
situ ada Kunto.
Kemarin ia datang dari
Surabaya.
Ia ikut terjun ke
tengah kancah perjuangan.
Kain itu terletak di
dalam lemari.
Ke mana saja ia
selama ini?
Kita perlu berpikir
sepuluh tahun ke depan.
Mari kita berangkat ke
pasar.
Mereka ada di rumah.
Saya pergi ke
sana-sini mencarinya.
Namun, perhatikan penulisan berikut:
Jangan mengesampingkan
persoalan yang penting itu.
Kami percaya sepenuhnya kepadanya.
Ia keluar sebentar.
Kemarikan buku itu!
Si Amin lebih tua daripada
si Ahmad.
Semua orang yang terkemuka
di desa hadir dalam kenduri itu.
Surat perintah itu dikeluarkan
di Jakarta pada tanggal 11 Maret 1966.
Kata Si dan Sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Harimau itu marah sekali
kepada sang Kancil.
Surat itu dikirimkan
kembali kepada si pengirim.
Partikel
1. Partikel -lah, -kah, dan
-tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apakah
yang tersirat dalam surat itu?
Bacalah
buku itu baik-baik!
Jakarta
adalah ibu kota Republik Indonesia.
Siapakah
gerangan dia?
Apatah
lagi yang akan diucapkannya?
2. Partikel pun ditulis
terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa pun
yang dimakannya, ia tetap kurus.
Hendak
pulang pun, sudah tak ada kendaraan.
Jangankan
dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.
Jika ayah
pergi, adik pun ingin pergi.
Namun, kelompok kata yang lazim dianggap padu, seperti adapun, andaipun, ataupun,
bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun,
maupun, meskipun, sungguhpun, walaupun ditulis serangkai.
Misalnya:
Adapun
sebab-sebabnya belum diketahui.
Baik para mahasiswa maupun
para mahasiswi ikut berdemonstrasi.
Sekalipun belum
memuaskan, hasil pekerjaannya dapat dijadikan pegangan.
Walaupun ia miskin,
ia selalu gembira.
3. Partikel per yang berarti 'mulai', ‘demi’, dan ‘tiap’
ditulis terpisah dari
bagian-bagian kalimat yang mendampinginya.
Misalnya:
Harga kain
itu Rp2.000,00 per helai.
Mereka
masuk ke dalam ruangan satu per satu.
Pegawai
negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.
Angka dan Lambang Bilangan
1. Angka dipakai untuk
menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di
dalam tulisan lazim digunakan angka Arab dan angka Romawi. Pemakaiannya diatur lebih lanjut dalam
pasal-pasal yang berikut ini.
Angka Arab : 0,
1,2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9.
Angka Romawi : I,
II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X.
L
(50), C (100), D (500), M (1.000)
2. Angka digunakan untuk
menyatakan (a) ukuran panjang, berat, dan
isi, (b) satuan waktu, dan (c) nilai uang.
Misalnya:
10 liter beras 1
jam 20 menit Rp5.000,00
4 meter persegi pukul 15.00 US$3.50
5 kilogram tahun
1976 ¥100
0,5 sentimeter 17 Agustus 1945 10 persen
3. Angka
lazim dipakai untuk menandai nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.
Misalnya:
Jalan
Tanah Abang I No.15
Hotel
Sofyan Kamar 69
4. Angka digunakan juga untuk
menomori karangan atau bagiannya.
Misalnya:
Bab X,
pasal 5, halaman 212
Surah
Yasin: 9
5. Penulisan lambang
bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut:
a. Bilangan utuh
Misalnya:
12
dua belas
22
dua puluh dua
222
dua ratus dua puluh dua
b. Bilangan pecahan
Misalnya:
1/2 setengah 3/4 tiga
perempat
1/16 seperenam belas 32/3 tiga dua
pertiga
1/100 seperseratus 1% satu
persen
1,2 satu dua persepuluh
6. Penulisan kata bilangan
tingkat dapat dilakukan dengan cara yang
berikut
Misalnya:
Paku
Buwono X Bab II Abad XX Tingkat
I
Paku
Buwono ke-10 Bab ke-2 Abad ke-20 Tingkat ke-1 Paku Buwono kesepuluh Bab
kedua Abad kedua
puluh Tingkat
kesatu (pertama)
7. Penulisan kata bilangan yang
mendapat akhiran -an mengikuti cara
yang berikut
Misalnya:
tahun 50-an
atau tahun lima puluhan
uang 5000-an
atau uang
lima ribuan
lima
lembar uang 1000-an atau lima uang
seribuan
8. Lambang
bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata, ditulis dengan huruf, kecuali jika beberapa
lambang bilangan dipakai secara
berurutan, seperti dalam pemerincian dan
pemaparan.
Misalnya:
Anti
menonton film itu sampai tiga kali.
Pak Burhan
memesan tiga ratus ekor ayam.
Di antara 72
anggota yang hadir, 52 orang memberikan suara
setuju, 15 suara tidak setuju, dan 5 suara blangko.
9. Lambang bilangan pada awal kalimat
ditulis dengan huruf. Jika perlu,
susunan kalimat diubah sehingga bilangan, yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata, tidak terdapat lagi pada awal kalimat.
Misalnya:
Lima belas orang
tewas dalam kecelakaan itu.
Bukan: 15 orang
tewas dalam kecelakaan itu.
Pak Lastim mengundang
250 orang tamu.
Bukan: 250 orang tamu diundang Pak Lastim.
Atau: Dua ratus lima puluh orang tamu
diundang Pak Lastim.
10. Angka yang menunjukkan
bilangan bulat yang besar dapat dieja untuk
sebagian supaya lebih mudah dibaca.
Misalnya:
Perusahaan itu baru saja
mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
11. Kecuali di dalam dokumen
resmi, seperti akta dan kuitansi, bilangan
tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks.
Misalnya:
Kantor kami mempunyai dua
ratus orang pegawai.
Bukan: Kantor kami
mempunyai 200 (dua ratus) orang pegawai.
Di lemari itu tersimpan 805
buku dan majalah.
Bukan: Di lemari itu
tersimpan 805 (delapan ratus lima) buku dan majalah.
12. Kalau bilangan
dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya
harus tepat.
Misalnya:
Saya lampirkan tanda
terima sebesar Rp1.500.000,00 (satu juta l ima
ratus ribu rupiah).
Saya lampirkan tanda
terima sebesar 1.500.000 (satu juta lima r atus
ribu) rupiah.
No comments:
Post a Comment