1. Pendahuluan
Pada saat menulis bab mengenai Kerangka Teoretis, berbagai teori dan konsep
yang diajukan oleh para ahli harus dikumpulkan. Teori dan konsep itu menjadi
landasan teoretis untuk menelaah data yang sudah dikumpulkan. Teori-teori itu
dikumpulkan dari berbagai buku teoretis yang sudah dibaca dan dipahami.
Pendapat yang mendukung sudut pandang ayau yang mendukung alasan penulis akan
dikutip.
Untuk dapat memperoleh intisari mengenai sudut pandang
ahli yang pendapatnya menunjang sebuah karya ilmiah, ada beberapa langkah.
- Penulis membuat ringkasan.
- Penulis membuat ikhtisar atau abstrak dari ringkasan yang telah dibuatnya.
- Penulis menyusun segala pengetahuan dari bacaan dalam sebuah sintesis.
Semua kegiatan tersebut disebut kegiatan memproduksi
sebuah karya ilmiah. Jadi, reproduksi meliputi kegiatan membuat kutipan,
ikhtisar atau ringkasan, dan sintesis.
2. Ringkasan
Salah satu untuk memahami sebuah teori adalah dengan membuat ringkasan.
Ringkasan adalah penyajian karangan atau peristiwa yang panjang dalam bentuk
yang singkat dan efektif. Ringkasan adalah sari karangan tanpa hiasan.
Ringkasan itu dapat merupakan ringkasan sebuah buku, bab, ataupun artikel.
Fungsi sebuah ringkasan adalah memahami atau mengetahui
sebuah buku atau karangan. Dengan membuat ringkasan, kita mempelajari cara
seseorang menyusun pikirannya dalam gagasan-gagasan yang diatur dari gagasan
yang besar menuju gagasan penunjang, Melalui ringkasan kita dapat menangkap
pokok pikiran dan tujuan penulis.
Untuk memperoleh ringkasan yang baik, bagian-bagian yang
dihilangkan adalah
— keindahan gaya bahasa
— ilustrasi atau contoh
— penjelasan yang terperinci
Meskipun memiliki bentuk yang ringkas, sebuah ringkasan
tetap mempertahankan pola pikiran dan cara pendekatan penulis asli. Jadi,
ringkasan tetap disusun dengan suara asli penulis. Ringkasan harus langsung
diawali bagian-bagian karangan asli. Ringkasan tidak perlu diawali dengan
kalimat pembuka, seperti “Dalam karangannya, pengarang berpendapat bahwa....”
Syarat ringkasan yang baik adalah
1)
ringkasan
tetap mempertahankan urutan pikiran dan pendekatan penulis asli
2)
ringkasan
tidak boleh mengandung hal baru, pikiran, atau opini dari pembuat ringkasan,
baik yang dimasukkan secara sadar maupun tidak sadar.
3)
Ringkasan
harus disampaikan dengan suara asli penulis, bukan dengan suara pembuat
ringkasan.
Untuk dapat membuat sebuah ringkasan yang baik,
dibutuhkan langkah-langkah sebagai berikut.
- Membaca naskah atau teks asli beberapa kali.
- Mencatat gagasan utama penulis. Dalam artikel, harus dicatat kalimat topik pada setiap paragraf.
- Membuang paragraf yang berisi contoh, deskripsi, atau kutipan.
- Membuang berbagai keterangan tambahan yang tidak penting dalam sebuah kalimat.
- Mengubah dialog langsung ke dalam bentuk tidak langsung.
- Sedapat mungkin menggunakan kalimat tunggal.
- Menyusun ringkasan dengan mempertahankan susunan gagasan penulis asli.
3. Ikhtisar dan Abstrak
Istilah ringkasan acapkali dikacaukan dengan istilah ikhtisar atau Abstrak.
Memang, keduanya merupakan intisari dari sebuah teks asli. Akan tetapi, ada
perbedaan besar dalam teknis pembuatannya. Sebuah ikhtisar atau abstrak dibuat
jika penyusunnya sudah mampu membuat ringkasan dari sebuah teks. Jadi,
penyusunan ikhtisar atau abstrak adalah langkah berikutnya setelah sebuah
ringkasan disusun.
A. Ikhtisar
Ikhtisar adalah rangkuman
gagasan yang dianggap penting oleh penyusun ikhtisar yang digali dari sebuah
teks. Penyusun ikhtisar dapat langsung mengemukakan inti atau pokok
permasalahan yang berkaitan dengan kepentingan atau perhatiannya. Hal pokok
yang membedakan ikhtisar dari rangkuman adalah sebagai berikut.
1)
Dalam
ikhtisar, urutan dari teks asli tidak perlu dipertahankan.
2)
Ikhtisar
tidak akan memberikan isi keseluruhan dari karangan asli secara proporsional.
3)
Bab-bab
atau bagian dari teks asli yang dianggap kurang penting oleh penyusun ikhtisar
dapat diabaikan.
Ciri ikhtisar adalah
— merupakan tulisan baru yang mengandung sebagian gagasan
dari teks.
— tidak mengandung hal baru, pikiran, atau opini penyusun
ikhtisar, baik yang dimasukkan secara sadar maupun tidak sadar.
— menggunakan kata-kata dari penyusun sendiri.
Contoh-contoh penggunaan ikhtisar dapat ditemukan dalam
penulisan teras berita (lead) di surat kabar, sampul belakang buku,
resensi buku, sinopsis film atau sinetron, atau kilasan berita.
Sebuah ikhtisar yang baik disusun berdasarkan 7 langkah
berikut ini.
- Menetapkan tujuan membaca: gagasan apa yang saya butuhkan?
- Membaca dengan cermat: apa relevansi gagasan yang saya perlukan itu dalam konteks tulisan saya ini?
- Mencatat gagasan yang penting dari sudut pandang penyusun ikhtisar dengan kata-kata sendiri.
- Menyusun kerangka tulisan.
- Menulis ikhtisar.
- Mengecek kembali tulisan asli untuk meyakinkan bahwa semua gagasan yang penting telah tergali.
- Mengoreksi kesalahan bahasa dan kesalahan cetak.
B. Abstrak
Sebenarnya, abstrak dan ikhtisar merupakan dua kata yang bermakna sama.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tercantum bahwa kata abstrak
berarti ‘ringkasan; inti; ikhtisar (karangan, laporan, dsb)’, sedangkan kata ikhtisar
berarti ‘pandangan secara ringkas (yang penting-penting saja); ringkasan.
Istilah abstrak berasal dari bahasa Inggris, sedangkan istilah ikhtisar
berasal dari bahasa Arab. Jadi, sebenarnya kedua istilah itu berpadanan.
Akan tetapi, di Indonesia, istilah ikhtisar dibedakan
dari istilah abstrak. Ikhtisar merupakan rangkuman gagasan yang berlaku
dalam laras umum, sedangkan abstrak merupakan rangkuman atau iktisar
yang berlaku dalam laras ilmiah. Oleh karena itu, berlaku format tertentu bagi
abstrak, baik untuk jurnal maupun untuk karya ilmiah.
Untuk tesis atau laporan tugas akhir, format aspek, yang
disusun atas 200—250 kata, secara umum meliputi aspek:
a)
latar
belakang dan tujuan penelitian
b)
bahan
dan metode penelitian
c)
hasil
dan kesimpulan yang nyata
Untuk jurnal ilmiah, jumlah kata yang dibutuhkan hanya
sekitar 75—100 kata dan diletakkan di awal sebuah artikel dan berlaku sebagai
teras artikel (beranalogi dengan teras berita)
4. Sintesis
Langkah terakhir yang wajib dilakukan dalam penulisan ilmiah adalah
sintesis. Sintesis adalah tindakan merangkum berbagai pengertian atau pendapat
sehingga merupakan suatu tulisan baru yang mengandung kesatuan yang selaras
dengan kebutuhan penulis. Khusus dalam penulisan karya ilmiah, sintesis
merupakan rangkuman berbagai rujukan yang disesuaikan dengan kebutuhan
penelitian si penulis.
Sintesis merupakan tahap terakhir dan langkah yang paling penting dalam
proses membaca kritis. Melalui sintesis, penyusun menciptakan pengetahuan baru
melalui pemaduan beberapa bahan bacaan dari berbagai penulis. Sintesis
merupakan kesimpulan yang diambil penulis berdasarkan pemahaman atas beberapa
tulisan. Sintesis dibangun berdasarkan kutipan-kutipan yang dikumpulkan oleh
penulis dan pemahaman atas kutipan tersebut.
Dalam menyusun sebuah sintesis, ada beberapa hal yang
harus diperhatikan oleh penulis.
- Penulis tidak boleh terkurung dalam pendapat ahli yang dibaca.
- Penulis harus membentuk dan mempertajam sudut pandangnya.
- Penulis harus mencari kaitan mendasar antara satu bacaan dan bacaan lain.
- Penulis harus mencari bagian bacaan yang akan menekankan kepentingan karya ilmiahnya.
- Dalam menulis buram, penulis harus memfokuskan setiap paragraf yang ditulisnya dalam simpulan yang terbentuk dari bahan bacaannya.
5. Daftar
Pustaka (Bibliografi)
Pada bagian akhir sebuah karangan ilmiah akan terdapat
sebuah daftar pustaka yang menjadi rujukan penulis selama melakukan dan
menyusun penelitian atau laporannya. Semua bahan rujukan yang digunakan penulis,
baik sebagai bahan penunjang maupun sebagai data, disusun dalam daftar pustaka
ini.
Adapun
fungsi daftar pustaka ialah
— membantu
pembaca mengenal ruang lingkup studi penulis,
— memberi
informasi kepada pembaca untuk memperoleh pengetahuan yang lebih lengkap dan
mendalam dari kutipan yang digunakan oleh penulis, dan
— membantu
pembaca memilih referensi dan materi dasar untuk studinya.
Daftar ini dapat disusun
dengan berbagai format, yakni format Chicago (cara yang direkomendasikan oleh
The University of Chicago), format MLA (cara yang direkomendasikan oleh Modern
Language Association), format APA (cara yang direkomendasikan oleh The American
Psychological Association), dan format lain yang berlaku di selingkung bidang.
Unsur yang harus dicantumkan dalam rujukan ialah
- nama penulis yang diawali dengan penulisan nama keluarga,
- tahun terbitan karya diletakkan di antara tanda kurung (format MLA dan APA) dan di belakang data publikasi (format chicago),
- judul karya tulis dengan menggunakan huruf besar untuk huruf pertama tiap kata kecuali kata sambung dan kata depan,
- data publikasi berisi nama tempat (kota) dan nama penerbit karya yang dikutip.
Teknik
penulisan rujukan ialah sebagai berikut.
— Baris
pertama dimulai pada pias (margin) sebelah kiri, baris kedua dan selanjutnya
dimulai dengan 3 ketukan ke dalam.
— Jarak
antarbaris ialah 1,5 spasi.
— Daftar
rujukan diurut
berdasarkan abjad huruf pertama nama keluarga penulis.
— Jika
penulis yang sama menulis beberapa karya ilmiah yang dikutip, nama penulis itu
harus dicantumkan ulang. Urutan penulisannya pun harus dimulai dengan karya
yang ditulis lebih dahulu.
No comments:
Post a Comment